
Harga emas mengalami penurunan tipis di awal pekan, meski masih mampu bertahan di atas level US$4.600 per troy ounce. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan jual mulai muncul, namun belum cukup kuat untuk mendorong penurunan yang lebih dalam.
Salah satu faktor utama yang membebani emas adalah sikap kebijakan moneter yang cenderung agresif dari bank sentral global, termasuk Federal Reserve. Kekhawatiran terhadap inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi membuat pasar memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama. Kondisi ini biasanya kurang menguntungkan bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi geopolitik, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran juga masih menjadi perhatian. Donald Trump mengumumkan rencana untuk mengawal kapal-kapal di kawasan Teluk melalui Selat Hormuz, sekaligus memperingatkan akan tindakan tegas jika terjadi gangguan. Pernyataan ini memicu respons keras dari pihak Iran dan meningkatkan risiko konflik baru. Selain itu, data ekonomi Amerika Serikat terbaru menunjukkan inflasi yang kembali meningkat, memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi bahkan hingga tahun depan. Hal ini turut mendukung penguatan dolar AS, yang pada akhirnya menekan harga emas.
Meski begitu, belum adanya aksi jual lanjutan menunjukkan bahwa pelaku pasar masih berhati-hati untuk mengambil posisi bearish secara agresif. Investor kini menantikan rilis data ekonomi penting AS, termasuk laporan tenaga kerja (Nonfarm Payrolls), yang berpotensi memberikan arah baru bagi pergerakan harga emas.
Secara keseluruhan, tren emas masih cenderung tertekan, namun potensi penurunan lanjutan tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi dan situasi geopolitik global.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-