Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan pelemahan Rupiah bukan disebabkan fundamental ekonomi Indonesia melemah, melainkan dipicu faktor global.
Perry menjelaskan secara fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup tinggi. Di mana pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 mencapai 5,61%. Pertumbuhan ini salah satu yang tertinggi di negara-negara G20.
Kemudian laju inflasi tetap terjaga di angka 2,42%. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia juga alami surplus dan kredit Bank juga tumbuh tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi secara indikator itu fundamental ekonomi kita itu kuat. Nah pertanyaannya kok ada pelemahan Rupiah? Ya, itu faktor global. Kemarin saya sampaikan karena kenaikan harga minyak, tensi geopolitik di Timur Tengah, demikian juga suku bunga AS meningkat tinggi 4,41%, dolarnya juga kuat dan investor asing juga lagi outflow dari seluruh negara emerging market Ini kondisi globalnya begitu. Itu faktor-faktor utama dari global yang pelemahan rupiah," jelas Perry dalam konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: Bos BI: Nilai Tukar Rupiah Stabil, Tingkat Pelemahan Terjaga |
Perry menambahkan ada faktor musiman yang turut meningkatkan permintaan valuta asing (valas), khususnya pada April dan Mei yakni kebutuhan masyarakat untuk ibadah umroh dan haji.
"Nah kebetulan secara musiman Kalau lagi April sama Mei itu permintaan valasnya tinggi. Untuk apa? Untuk kita doakan seluruh masyarakat kita yang ibadah umroh dan haji InsyaAllah nanti sehat, dan kita pastikan kebutuhan dolarnya terpenuhi juga bulan April Mei itu memang korporasi banyak yang repatriasi dividen, membayar utang luar negeri, baik bunga dan pokok. Memang kondisinya begitu," terang Perry.
(hrp/hns)作者:Heri Purnomo -,文章来源detik_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发