
Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada awal pekan ini. Pada Senin (13/4) pagi, rupiah berada di posisi Rp17.128 per Dolar AS, melemah sekitar 24 poin atau 0,14 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif setelah pekan lalu rupiah juga sempat mencatat rekor terendah di kisaran Rp17.104 per Dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (Jisdor) menempatkan rupiah di level Rp17.112 per Dolar AS.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terlihat bervariasi. Yen Jepang dan Baht Thailand sama-sama melemah, sementara Yuan China justru menguat. Di sisi lain, Peso Filipina mencatat penguatan, sedangkan Won Korea Selatan mengalami tekanan.
Untuk mata uang global, mayoritas justru menunjukkan penguatan. Euro, Poundsterling, dan Franc Swiss tercatat menguat terhadap Dolar AS. Dolar Australia juga naik tipis, sementara Dolar Kanada mengalami pelemahan.
Analis melihat tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Faktor utama berasal dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah memanasnya kembali tensi antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, sentimen pasar semakin negatif setelah muncul ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia. Kondisi ini mendorong investor global cenderung beralih ke aset safe haven seperti Dolar AS.
Secara teknikal, level saat ini bahkan sudah melampaui rekor penutupan terlemah sebelumnya, dengan kisaran intraday yang sempat mendekati Rp17.130 per Dolar AS.
Ke depannya, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam tekanan dengan rentang perdagangan di kisaran Rp17.050 hingga Rp17.200 per Dolar AS, seiring pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-