Harga emas dunia kembali menjadi sorotan setelah melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari 2 pekan pada perdagangan Rabu (22/7). Logam mulia ini sempat diperdagangkan di kisaran US$4.130-US$4.141 per troy ons, didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah konflik Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Perak Juga Menguat Berkat Permintaan Safe Haven
Tidak hanya emas, harga perak (XAG/USD) juga melanjutkan penguatan selama empat hari berturut-turut dan diperdagangkan mendekati US$60 per troy ons.

Permintaan terhadap perak meningkat karena investor institusional mulai mengalihkan sebagian dana dari aset berisiko ke aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Namun, sama seperti emas, potensi kenaikan perak juga dapat dibatasi apabila inflasi yang dipicu kenaikan harga energi membuat The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Harapan Diplomasi AS-Iran Dorong Minat Safe Haven
Pasar mulai melihat peluang meredanya konflik setelah muncul sinyal bahwa komunikasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran masih terbuka. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Washington masih bersedia melanjutkan pembicaraan dengan Iran. Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni, melakukan kunjungan ke Pakistan untuk mendorong upaya mediasi antara kedua negara. Sejumlah laporan juga menyebut para mediator internasional masih berusaha membawa kedua pihak kembali ke meja perundingan.
Harapan tersebut sempat meningkatkan optimisme investor bahwa konflik tidak akan berkembang menjadi perang yang lebih luas, sehingga mendukung permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Harga Minyak Naik, Inflasi Kembali Jadi Ancaman
Meningkatnya konflik di kawasan Teluk mendorong harga minyak dunia kembali naik karena pasar khawatir pasokan energi global akan terganggu, terutama jika aktivitas di Selat Hormuz semakin terbatas. Lonjakan harga minyak ini memunculkan kembali kekhawatiran inflasi berbasis energi. Jika harga energi terus meningkat, tekanan inflasi berpotensi kembali menguat sehingga bank-bank sentral, termasuk The Fed, kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut biasanya menjadi tantangan bagi harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (yield).
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Masih Tinggi
Meskipun emas sedang menguat, pasar masih memperkirakan kebijakan moneter AS akan tetap ketat.
Berdasarkan CME FedWatch Tool:
Ekspektasi tersebut membuat Dolar AS tetap kuat dan berpotensi membatasi ruang kenaikan harga emas dalam jangka pendek.
Analis: Emas Masih Bergerak Dua Arah
Analis OCBC menilai harga emas saat ini masih berada dalam fase two-way trading, yakni berpotensi bergerak naik maupun turun tergantung perkembangan berita.
Menurut mereka, agar reli emas dapat berlanjut secara lebih kuat, pasar membutuhkan beberapa kondisi berikut:
- Harga minyak mulai stabil atau menurun.
- Imbal hasil riil obligasi AS (real yield) melemah.
- Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai berkurang.
Selama faktor-faktor tersebut belum berubah, setiap kenaikan harga emas berpotensi menghadapi tekanan jual.
Apa Dampaknya bagi Trader?
Pergerakan emas dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh 2 faktor utama, yaitu perkembangan konflik AS-Iran dan ekspektasi kebijakan The Fed.
- Perkembangan diplomasi AS-Iran. Jika negosiasi menunjukkan kemajuan, harga minyak berpotensi turun sehingga tekanan inflasi mereda. Sebaliknya, eskalasi konflik dapat kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven.
- Pergerakan harga minyak. Kenaikan minyak dapat meningkatkan ekspektasi inflasi dan memperkuat peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
- Ekspektasi suku bunga The Fed. Semakin tinggi peluang kenaikan suku bunga, semakin besar potensi penguatan dolar AS yang dapat membatasi kenaikan emas.
- Volatilitas pasar. Konflik geopolitik membuat harga emas dan perak lebih sensitif terhadap berita, sehingga trader perlu memperhatikan manajemen risiko.
Meski emas berhasil mencetak level tertinggi dalam lebih dari 2 minggu, arah pergerakan selanjutnya masih bergantung pada keseimbangan antara meningkatnya permintaan safe haven dan tekanan dari kebijakan moneter AS yang tetap hawkish. Bagi trader, kombinasi sentimen geopolitik, harga minyak, dan ekspektasi suku bunga akan menjadi penentu utama volatilitas pasar logam mulia dalam waktu dekat.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-