
Bank Indonesia (BI) memperkirakan perekonomian global masih akan menghadapi periode "higher for longer", yaitu kondisi suku bunga dan inflasi yang tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Situasi ini dipicu oleh sikap Federal Reserve (The Fed) yang masih mempertahankan kebijakan moneter ketat di tengah ekonomi dan inflasi Amerika Serikat yang tetap kuat.
Pejabat Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti, mengatakan keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%, disertai pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang masih bernada hawkish, mengindikasikan bahwa penurunan suku bunga belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Menurut Destry, kondisi tersebut akan berdampak pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga BI perlu menyiapkan bauran kebijakan yang mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus tetap mendukung pertumbuhan.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, BI tetap mengedepankan dua fokus utama, yaitu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi (pro stability) serta mendorong pertumbuhan ekonomi (pro growth) melalui kombinasi kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.
Salah satu langkah yang telah ditempuh adalah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin sejak awal tahun hingga berada di level 5,75%. Kebijakan tersebut dinilai berhasil meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Destry mengungkapkan bahwa pada awal pekan ini, aliran dana asing yang masuk ke pasar SBN dan SRBI mencapai sekitar Rp195 triliun, atau lebih dari US$10 miliar. Arus modal tersebut dinilai penting untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar global.
Di sisi pengendalian inflasi, BI terus mempererat koordinasi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Selain itu, pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) juga terus diperkuat untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan.
Sejumlah program GNPIP hingga Juli 2026 menunjukkan capaian yang melampaui target, mulai dari penerapan Good Agricultural Practices (GAP), perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), hingga Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Sementara itu, pelaksanaan Gerakan Pasar Murah (GPM) juga terus dipercepat sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat.
Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati arah kebijakan BI dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan domestik, terutama di tengah prospek suku bunga global yang diperkirakan masih tinggi dan ketidakpastian ekonomi internasional yang belum mereda.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-