
Pergerakan Rupiah kembali menjadi perhatian pasar pada Rabu (19/8), seiring investor menunggu keputusan Bank Indonesia (BI) mengenai suku bunga acuan. Rupiah bergerak di sekitar Rp17.832 per Dolar AS di pasar offshore setelah sehari sebelumnya ditutup melemah 0,12% ke kisaran Rp17.851.
Rupiah (Offshore)
Rp17.832
Penutupan Sebelumnya
▼ 0,12%
ke Rp17.851
Fokus pasar hari ini bukan hanya pada apakah BI akan mengubah BI-Rate, tetapi juga pada sinyal yang diberikan bank sentral mengenai arah kebijakan moneter hingga akhir 2026.
Konsensus 35 Ekonom (Bloomberg)
BI-Rate Tetap 5,75%
Jika sesuai ekspektasi, BI akan kembali mempertahankan suku bunga setelah sebelumnya menaikkan suku bunga secara agresif sepanjang Mei-Juni.
BI Punya Alasan untuk Menahan Suku Bunga
Sejumlah faktor memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga.
Inflasi Juli 2026
2,88%
Turun dari 3,34% (Juni)
Arus Modal Masuk
Membaik
Menopang stabilisasi Rupiah
Namun, bukan berarti risiko terhadap Rupiah sudah hilang.
The Fed dan Timur Tengah Masih Jadi Risiko
Salah satu faktor penting yang diperhatikan BI adalah kebijakan Federal Reserve AS. The Fed saat ini mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%. Data inflasi, tenaga kerja, dan aktivitas ekonomi AS yang mulai menunjukkan tanda pelemahan telah mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan bersikap semakin hawkish dalam waktu dekat. Kondisi tersebut relatif positif bagi Rupiah karena berpotensi mengurangi tekanan penguatan Dolar AS.
Namun, ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan harga energi dapat kembali meningkatkan inflasi global, memperkuat Dolar AS sebagai aset safe haven, sekaligus memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Karena itu, meskipun BI diperkirakan mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat, ruang untuk perubahan kebijakan tetap terbuka apabila kondisi eksternal memburuk secara signifikan.
Inflasi Bisa Kembali Naik dalam Beberapa Bulan ke Depan
LPEM FEB UI memperkirakan tekanan inflasi berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang seiring fenomena El Niño dan puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus-September 2026. Risikonya terutama berasal dari harga pangan.
Artinya, inflasi Juli yang turun ke 2,88% belum tentu menjadi tren permanen. Bagi BI, situasi ini membuat keputusan mempertahankan suku bunga menjadi lebih masuk akal sambil menunggu perkembangan harga pangan, nilai tukar, dan kondisi global.
Kredit Perbankan Jadi Data Penting Berikutnya
Selain BI-Rate, pasar juga akan mencermati perkembangan kredit perbankan Juli 2026.
Pertumbuhan Kredit (YoY)
Mei
11,51%
Juni
12,67%
Juli (Proyeksi)
~13%
Pertumbuhan tersebut sekaligus melanjutkan tren akselerasi selama empat bulan berturut-turut. Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan pertumbuhan kredit dapat meningkat menjadi sekitar 13% YoY pada Juli. Jika terealisasi, angka tersebut dapat menjadi sinyal bahwa transmisi kebijakan moneter dan aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat.
Bagi BI, pertumbuhan kredit yang sehat memberikan ruang untuk tidak terburu-buru mengubah suku bunga, selama stabilitas Rupiah dan inflasi tetap terkendali.
Bagaimana Dampaknya ke IHSG?
Keputusan BI juga berpotensi memengaruhi pasar saham Indonesia.
IHSG
▲ 0,75%
Ditutup di 6.449,83
Investor Asing
Net Sell
Rp355,17 miliar
Ini artinya, investor kemungkinan tidak hanya melihat keputusan BI-Rate, tetapi juga mencermati nada pernyataan BI mengenai Rupiah, inflasi, arus modal, dan prospek suku bunga ke depan.
Jadi, Apa yang Harus Diperhatikan Trader?
Ada tiga skenario utama yang perlu diperhatikan pasar:
Jika BI mempertahankan suku bunga dan memberikan sinyal bahwa tekanan eksternal mereda, Rupiah berpotensi mendapat dukungan. Pasar saham juga dapat merespons positif.
Suku bunga tidak berubah, tetapi BI memberikan sinyal siap mengetatkan kebijakan jika Rupiah atau inflasi kembali tertekan. Dampaknya bisa lebih positif bagi Rupiah, tetapi belum tentu bagi saham.
Skenario paling mengejutkan karena mayoritas ekonom tidak memperkirakannya. Kenaikan suku bunga dapat memberikan dukungan langsung terhadap Rupiah, tetapi sekaligus berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasar saham dan aktivitas kredit.
Dengan Rupiah masih berada di sekitar Rp17.800-an per Dolar AS, keputusan BI hari ini menjadi lebih dari sekadar angka 5,75% atau kenaikan suku bunga. Yang paling penting bagi pasar adalah petunjuk mengenai apa yang akan dilakukan BI setelah pertemuan ini.
Jika inflasi tetap terkendali, arus modal membaik, dan tekanan terhadap Rupiah mereda, BI memiliki alasan untuk mempertahankan kebijakan. Namun, jika risiko geopolitik, harga energi, atau inflasi domestik kembali meningkat, arah kebijakan bisa berubah lebih hawkish.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-