
Euro mulai menunjukkan pemulihan terhadap dolar AS setelah Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mempertahankan suku bunga di level 2,5% pada Kamis, 29 Oktober 2026. Meski keputusan tersebut sesuai ekspektasi pasar, meningkatnya inflasi kawasan euro dan lonjakan harga energi membuat peluang kenaikan bunga pada Desember kembali menjadi perhatian investor.
EUR/USD
▲ > 1,1200
Naik 3 hari berturut-turut
Deposit Facility ECB
2,5%
Dipertahankan
Pada Jumat, 30 Oktober, pasangan EUR/USD melanjutkan penguatan selama tiga hari berturut-turut dan kembali menembus level 1,1200 pada sesi Asia. Pemulihan ini terjadi setelah sebelumnya turun ke sekitar 1,1100, level terendah sejak Mei 2025.
ECB Tahan Suku Bunga, tetapi Belum Menutup Peluang Kenaikan
ECB mempertahankan suku bunga deposit facility di 2,5%, setelah menaikkannya sebesar 25 basis poin pada September. Keputusan ini diambil meskipun inflasi kawasan euro meningkat ke level tertinggi dalam tiga tahun. Dalam pernyataan resminya, Dewan Gubernur ECB menilai kenaikan harga energi membawa dua risiko sekaligus: tekanan inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah.
Presiden ECB Christine Lagarde menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak, bensin, bahan bakar, gas, serta margin penyulingan menjadi perkembangan utama sejak pertemuan sebelumnya. Selain itu, biaya pembiayaan jangka panjang juga meningkat tajam. Rata-rata imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun naik sekitar 35 basis poin. Meski menghadapi tekanan tersebut, ECB menilai inflasi inti dan pertumbuhan upah masih relatif stabil. Lagarde juga menyebut belum terlihat dampak inflasi lanjutan atau second-round effects di luar yang sudah diperhitungkan dalam proyeksi September.
Karena ketidakpastian masih tinggi, seluruh anggota Dewan Gubernur sepakat bahwa ECB berada dalam posisi yang cukup baik untuk mempertahankan suku bunga dan mengambil pendekatan terukur.
Inflasi Euro Area Naik ke 3,8% akibat Harga Energi
Inflasi Zona Euro (September, YoY)
3,8%
Tertinggi sejak September 2023
Inflasi Energi
18,8%
Inflasi tahunan kawasan euro mencapai 3,8% pada September 2026, tertinggi sejak September 2023. Kenaikan ini terutama didorong oleh inflasi energi yang mencapai 18,8%. Tekanan harga energi meningkat setelah pecahnya perang AS-Israel dengan Iran pada Februari 2026. Konflik tersebut mengganggu prospek pasokan energi dan mendorong kenaikan harga minyak serta gas. Sebelumnya, lonjakan tekanan energi juga menjadi salah satu alasan ECB menaikkan suku bunga pada Juni untuk pertama kalinya sejak 2023, sebelum kembali menaikkan bunga pada September. Pasar kini menilai ECB mungkin belum selesai dengan siklus pengetatan kebijakannya.
Peluang ECB Naik 25 bps pada Desember (LSEG)
~67%
Deposit facility akan naik dari 2,5% menjadi 2,75%
Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai sekitar 67% setelah keputusan terbaru. Jika kenaikan tersebut terjadi, suku bunga deposit facility akan meningkat dari 2,5% menjadi 2,75%.
Ekonom Melihat Keputusan ECB sebagai Hawkish Pause
Sejumlah ekonom menilai keputusan mempertahankan suku bunga bukan berarti ECB telah mengakhiri siklus kenaikan bunga. Mark Wall, Kepala Ekonom Eropa Deutsche Bank, menilai dua kenaikan bunga yang sudah dilakukan dan pengetatan kondisi keuangan sejak September kemungkinan belum cukup untuk mengantisipasi risiko kenaikan inflasi energi. Deutsche Bank memperkirakan ECB masih akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,75% pada Desember, yang kemungkinan menjadi kenaikan terakhir dalam siklus tersebut.
Sementara itu, Dean Turner, Kepala Ekonom Zona Euro dan Inggris di UBS Global Wealth Management, menyebut keputusan ECB sebagai hawkish pause, bukan akhir dari siklus pengetatan. Menurutnya, fokus ECB tetap memastikan inflasi yang saat ini didorong oleh energi tidak berkembang menjadi tekanan harga yang lebih persisten.
Namun, arah kebijakan ke depan juga menghadapi ketidakpastian karena Lagarde mengumumkan rencana untuk mundur dari jabatannya sebagai Presiden ECB pada Kamis. Perubahan kepemimpinan ini berpotensi menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar dalam menentukan arah kebijakan moneter tahun depan.
EUR/USD Rebound ke 1,1200, Prospek Euro Masih Bergantung pada ECB dan The Fed
Setelah keputusan ECB, EUR/USD mulai memulihkan kerugian dan mencatat penguatan selama tiga hari berturut-turut. Selain prospek kebijakan ECB yang cenderung hawkish, pelemahan dolar AS turut memberikan dorongan bagi euro.
Dolar sebelumnya menguat hingga mencapai level tertinggi dua pekan, tetapi kemudian melemah seiring harapan dimulainya kembali negosiasi damai di Timur Tengah dan penurunan imbal hasil obligasi AS. Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember justru menjadi faktor yang dapat menopang dolar AS. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperhitungkan peluang sekitar 75% bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga. Ekspektasi tersebut didukung data ekonomi AS yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi mencapai laju tahunan 3,4% pada kuartal III, sementara inflasi September masih berada di atas target 2%.
Dengan demikian, prospek EUR/USD menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. ECB berpotensi kembali menaikkan bunga, tetapi The Fed juga menghadapi tekanan untuk mempertahankan kebijakan ketat.
Data Berikutnya yang Perlu Diperhatikan Trader
Pergerakan EUR/USD selanjutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi terbaru dari AS dan kawasan euro. Beberapa agenda penting yang perlu dipantau:
Memberikan gambaran mengenai ketahanan pertumbuhan ekonomi kawasan euro.
Menjadi petunjuk apakah tekanan harga masih meningkat dan memperkuat peluang kenaikan bunga ECB.
Pertumbuhan ekonomi dan inflasi dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed pada Desember.
Setiap kemajuan negosiasi damai atau eskalasi konflik dapat memengaruhi harga minyak, ekspektasi inflasi, dan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.
Untuk EUR/USD, area 1,1200 menjadi level psikologis yang kembali diperhatikan setelah pasangan ini berhasil merebutnya. Namun, pemulihan tersebut belum cukup untuk memastikan terbentuknya tren naik baru. Penguatan euro masih membutuhkan dukungan lanjutan dari data ekonomi dan ekspektasi kebijakan ECB.
Kesimpulan
Keputusan ECB mempertahankan suku bunga di 2,5% tidak sepenuhnya menghilangkan peluang pengetatan kebijakan. Inflasi yang mencapai 3,8%, terutama akibat kenaikan harga energi, membuat pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan bunga menjadi 2,75% pada Desember.
Kondisi ini membantu euro pulih ke atas 1,1200 terhadap dolar AS. Namun, ekspektasi kenaikan bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik masih berpotensi membatasi penguatan EUR/USD. Bagi trader, fokus utama saat ini adalah perkembangan inflasi, data pertumbuhan ekonomi, dan arah kebijakan kedua bank sentral menjelang akhir tahun.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-