Harapan Kesepakatan Damai Timur Tengah Memudar, Greenback Berjaya

avatar
· 阅读量 403
  • Dolar AS menguat akibat ketegangan Timur Tengah dan harga minyak tinggi.
  • Data inflasi AS dorong ekspektasi Fed pertahankan suku bunga.
  • Mata uang lain melemah, termasuk rupiah dan rupee India.

Ipotnews - Dolar AS menguat secara luas, Selasa, seiring belum adanya kemajuan dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak mendorong kekhawatiran investor bahwa suku bunga mungkin perlu tetap tinggi untuk mengendalikan tekanan inflasi.
Investor kini ketar-ketir gencatan senjata yang diberlakukan sejak 7 April bisa terancam dan permusuhan kembali terjadi dalam konflik yang dimulai akhir Februari, yang menewaskan ribuan orang dan menghentikan aliran energi vital, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Selasa (12/5).
Dengan Selat Hormuz yang krusial sebagian besar tertutup, kontrak berjangka Brent naik 0,6% menjadi USD104,88 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di USD98,93 per barel, melompat 0,89%.
Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran berada "di ambang kehancuran" setelah perdebatan terbaru terkait proposal perdamaian Amerika Serikat memperlihatkan kedua pihak masih jauh berbeda dalam sejumlah isu.
Pasar mata uang menunjukkan suasana risk-off, dengan fokus bergeser pada kunjungan Trump ke China, pekan ini, serta laporan inflasi Amerika yang dijadwalkan rilis hari ini. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, juga berada di Asia untuk pertemuan di Jepang dan Korea Selatan.
Euro melemah 0,24% menjadi USD1,1754, sementara poundsterling dibeli USD1,3575, turun 0,26%.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, berada di posisi 98,17, naik 0,2%.
Dolar sempat mendapatkan manfaat dari aliran modal safe-haven ketika perang pertama kali pecah, namun sebagian besar keuntungan tersebut menghilang, dan pergerakan dolar tetap berfluktuasi seiring prospek perdamaian dan gencatan senjata yang tampak rapuh.
Christopher Wong, analis OCBC , mengatakan penolakan Trump atas respons Iran terhadap proposal perdamaian Amerika membuat pasar tetap hati-hati dan memberikan dasar penguatan bagi dolar.
"Meski demikian, penguatan dolar relatif terbatas, menunjukkan pasar belum sepenuhnya menganggap berita terbaru sebagai shock risk-off," ujar Wong. "Jika terjadi keruntuhan diplomatik atau eskalasi militer baru, reaksi pasar bisa jauh lebih besar."
Data Inflasi AS
Sorotan utama kini tertuju pada laporan inflasi Amerika, yang diperkirakan menunjukkan kenaikan harga konsumen 0,6% pada bulan lalu, setelah melonjak 0,9% di Maret, menurut survei  Reuters  terhadap sejumlah ekonom. Estimasi berkisar antara 0,4% hingga 0,9%.
Data ini akan memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve kemungkinan besar bakal mempertahankan suku bunga tetap dalam jangka dekat. Pasar sekarang hampir menghapus peluang pemotongan suku bunga tahun ini, dibandingkan dua pemotongan yang sebelumnya diperkirakan sebelum konflik Iran pecah.
"Risikonya adalah inflasi inti bisa lebih tinggi dari ekspektasi konsensus karena efek lonjakan harga energi terhadap harga lain seperti tiket pesawat dan pangan," kata Sarah Hammoud, analis Commonwealth Bank of Australia. "Kejutan kenaikan inflasi inti Amerika akan mendorong suku bunga dan dolar melesat."
Sementara itu, yen bergerak fluktuatif di level 157,12 per dolar, seiring trader menimbang komentar Bessent dan rekannya dari Jepang, Satsuki Katayama, setelah pertemuan mereka di Tokyo. Bessent menegaskan bahwa AS dan Jepang menjaga koordinasi "konstan dan kuat" dalam mengatasi pergerakan mata uang yang terlalu volatil.
Komentar tersebut memperlihatkan Washington umumnya menyetujui intervensi pembelian yen baru-baru ini oleh Jepang untuk menopang mata uangnya yang melemah, yang meningkatkan biaya impor dan menekan ekonomi domestik.
Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko turun 0,27% ke posisi USD0,723 menjelang rilis anggaran federal, sementara dolar Selandia Baru melemah 0,17% jadi USD0,59531.
Penguatan dolar menimbulkan tekanan pada mata uang pasar negara berkembang, dengan rupiah dan rupee India menyentuh level terendah sepanjang masa. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest